Berita

Kaum Intoleran Sebar Kabar Bohong tentang Kondisi Ade Armando pasca Mubahalah

Diposkan pada
Kaum Intoleran Sebar Kabar Bohong tentang Kondisi Ade Armando pasca Mubahalah

Kaum intoleran kembali berulah. Kemarin mereka menyebarkan kabar yang bunyinya bahwa asma Ade Armando mendadak kambuh dan akut. Karuan, menurut kabar itu, Ade dibawa ke rumah sakit dan dirawat intensif.

Saya ingin katakan bahwa kabar itu bohong besar. Itu bisa saya pastikan setelah bertanya langsung ke bang Ade, begitu saya menyapanya. Adapun kondisi Ade sekarang baik-baik saja dan sedang sedikit sibuk karena memeriksa hasil ujian para mahasiswanya.

Mengapa kaum intoleran menyebarkan kabar bohong terkait Ade Armando itu? Itu tentu berhubung dengan mubahalah (sumpah) yang dilayangkan Ade.

Jadi, beberapa hari yang lalu Ade via akun Facebook-nya menyatakan bahwa dia bersedia diazab jika kasus chat mesum yang melibatkan Rizieq Shihab dan Firza Husein itu bohong. Sebaliknya, jika chat mesum itu benar, maka Rizieq yang akan diazab Allah.

Mubahalah online itu dilayangkan Ade karena Rizieq dan pendukungnya mengajak bermubahalah pihak-pihak yang berseberangan dengan mereka terkait kasus ini. Bahkan mereka menantang Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk bermubahalah.

Tantangan itu memang tidak dilayani kapolri. Sebagai gantinya, Ade yang maju untuk melayani mubahalah Rizieq dan pendukungnya itu.

Setelah mubahalah online dilayangkan bang Ade, banyak pendukung Rizieq yang masuk ke page-nya Ade lalu mereka mengamini mubahalah itu.

Mereka yakin bahwa yang salah pastilah Ade Armando dan yang benar Rizieq Shihab. Karena itu, tujuan mereka mengamini mubahalah online itu agar Allah segera menimpakan azab-Nya kepada Ade.

Jahatnya, mereka menyebarkan berita bohong di atas dan mereka berharap itu viral di sosial media. Dengan begitu mereka ingin menunjukkan bahwa Ade Armando salah dan Rizieq Shihab yang benar.

Masalahnya, skenario mereka itu berantakan. Buktinya Ade baik-baik saja dan sehat-sehat saja.

Bahkan Ade berkata, “Saya percaya Allah selalu melindungi orang yang berada di jalan yang benar”.

Saya tidak tahu bagaimana kondisi Rizieq Shihab sekarang yang sedang menginap di salah satu hotel mewah di Mekkah. Saya pribadi berharap Rizieq baik-baik saja agar dia bisa pulang dan menyelesaikan sejumlah perkara hukum yang melilitnya.

Apa Ade Armando akan menyebarkan berita bohong serupa di atas dengan objek Rizieq Shihab?

Tenang. Sejauh pengalaman saya, Ade bukanlah tipikal pendendam. Dia malah cenderung mudah memaafkan kesalahan orang. Karena itu saya jamin Ade tidak akan melakukan tindakan berdosa itu hanya untuk melampiaskan kebencian dan dendamnya.

Mengapa Ade tidak mau mengotori tangannya dengan perbuatan yang hina di mata agama dan moral itu? Jawabannya simpel: karena dia adalah Muslim yang baik. Karena dia percaya Islam yang diyakininya itu mengajarkan nilai-nilai kemuliaan hidup

Perdamaian

5 Walikota Muslim di Barat

Diposkan pada
5 Walikota Muslim di Barat

Pekan lalu nama Sadiq Khan menjadi pusat perbincangan dunia. Politisi Muslim dari Partai Buruh yang berhaluan kiri itu definitif ditetapkan menjadi Walikota London (6/5) setelah melewati masa kompetisi politik yang diwarnai kampanye hitam bernada SARA.

Kabar kemenangan Khan itu bukan kabar biasa. Kabar itu mengandung beragam inspirasi. Yang terutama adalah, di negara yang demokratis status minoritas ganda (‘non-pribumi’ dan bukan penganut agama mayoritas) yang melekat pada diri seseorang bukanlah halangan terbesar baginya untuk meraih kesuksesan di berbagai bidang seperti yang dinikmati kelompok mayoritas.

Meski seorang Muslim, Khan menegaskan tidak akan mengistimewakan komunitas Muslim di London. Sebagai walikota, Khan berjanji akan melayani seluruh warga Londoners. “Saya ingin setiap warga London mendapatkan kesempatan yang diberikan kota ini kepada saya dan keluarga saya. Kesempatan tidak hanya untuk bertahan hidup, tapi untuk berkembang,” kata Khan dalam pidatonya usai pengambilan sumpah jabatan di Katedral Southwark, London (7/5).

Bila ditelusuri, Khan sesungguhnya bukanlah walikota Muslim satu-satunya di Barat. Di Inggris sendiri tercatat ada sejumlah walikota Muslim, seperti Jilani Chowdhury dan Muhammad Abdullah Salique. Di negara Eropa lainnya (Belanda) ada nama Ahmed Aboutaleb. Di Amerika Serikat (AS) ada nama Mohammed Hameeduddin. Dan di Kanada ada nama Naheed Kurban Nenshi.

Berikut adalah profil singkat 5 orang Muslim yang didaulat menjadi walikota di Barat.

  1. Mohammed Hameeduddin

Di Negara Paman Sam, kita menemukan nama Mohammed Hameeduddin yang ditunjuk menjadi Walikota Teaneck, Bergen County, New Jersey, AS. Hameeduddin bahkan tercatat satu-satunya walikota Muslim di Bergen County.

Sejak dulu Teaneck dikenal sebagai kota yang beragam dari sisi etnis, ras, dan agama. Di Teaneck tercatat ada sekitar 20 sinagog, satu masjid besar, dan lebih dari 30 restoran halal. Sejak 1960 keragaman itu sudah diajarkan di sekolah. Harian The New York Times bahkan pernah menjuluki Teaneck sebagai ‘Yerusalem di Barat’.

Selama menjadi orang nomor satu di Teaneck (2010-2014), Hameeduddin didampingi Adam Gussen sebagai wakilnya. Gussen adalah seorang Yahudi Ortodoks. Bagi Hameeduddin, Gussen bukanlah sosok asing, begitu juga sebaliknya. Keduanya sudah menjalin hubungan yang cukup erat ketika keduanya masih belajar di sekolah menengah yang sama dan kampus yang sama.

Hameeduddin adalah anak imigran dari Hyderabad, India. Ayahnya termasuk salah satu tokoh yang membangun Masjid Darul Islah di Teaneck. Hameeduddin mulanya seorang apolitis. Usai lulus kuliah, ia lebih memilih karier sebagai pengusaha di bidang asuransi.

Pria kelahiran 1973 itu mulai tertarik terhadap isu-isu publik setelah AS diserang aksi terorisme pada 11 September 2001. Saat itu muncul kesalahan persepsi terhadap komunitas Muslim AS. Komunitas Muslim AS dipertanyakan nasionalismenya dan dituding terlebih dalam aksi terorisme itu. Hameeduddin merasa terpanggil untuk meluruskan kesalahan persepsi terhadap komunitas Muslim AS. Rasa keterpanggilan Hameeduddin itu didukung penuh Gussen

Dua faktor itulah yang membuat Hameeduddin mantap terjun di dunia politik. Mula-mula Hameeduddin terlibat di dewan perencanaan kota (2006-2008). Belakangan dia terpilih menjadi anggota dewan kota.

Bagi Gussen terpilihnya Hameeduddin dan dirinya sebagai Walikota dan Wakil Walikota Teaneck membuat keduanya memiliki fokus yang berbeda dengan mantan walikota dan wakil walikota dalam memperbaiki apa yang berjalan salah sebelumnya. “Let’s not miss the opportunity to focus on an act of unity and an act of different people really coming together,” kata Gussen menghimbau.

  1. Jilani Chowdhury

Jilani Chowdhury menghabiskan separuh usianya di tanah kelahirannya di Distrik Moulvibazar, Bangladesh. Sejak belia darah aktivisme sudah mengalir dalam diri pria yang lahir pada 18 September 1964 itu.

Selama masa kuliahnya, Chowdhury sudah terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap rezim militer dan penguatan demokrasi di Bangladesh. Lulus kuliah, Chowdhury bergabung dengan LSM yang mendukung hak-hak para pekerja dan kesetaraan kesempatan. Pada 1992, Chowdhury dan istri pertamanya memutuskan untuk hijrah ke London, Inggris, untuk mencari penghidupan yang lebih layak.

Chowdhury mulai meniti karier sebagai politisi di Inggris ketika ia membantu anggota parlemen Jeremy Corbin dari Partai Buruh sebagai penerjemah. Setelah itu, ia resmi bergabung dengan Partai Buruh.

Dalam pemilihan Anggota Dewan Wilayah Islington pada 2006, Chowdhury terpilih menjadi anggota dewan dari Partai Buruh dengan Barnsbury sebagai daerah pemilihannya. Sejak 2011, ia ditugaskan sebagai Wakil Walikota Islington. Islington adalah bagian dari wilayah administratif London Raya.

Chowdhury mencapai puncak kariernya sebagai politisi di Islington pada Mei 2012. Setelah 20 tahun hijrah ke Inggris, ia terpilih sebagai Walikota Islington dan merupakan Walikota Islington pertama berdarah Bangladesh.

Saat pelantikannya sebagai Walikota Islington, ayah tiga anak itu mengajak berbagai komunitas etnis di Islington untuk terlibat dalam politik. Sebab, menurutnya, itu satu-satunya cara untuk menghadirkan perubahan.

  1. Ahmed Aboutaleb

Ahmed Aboutaleb adalah wallikota yang Muslim di Barat yang paling dikenal. Aboutaleb memulai karier politiknya di Amsterdam, Belanda. Pada 2004 ia menjadi anggota dewan kota (alderman) Amsterdam dari Partai Buruh. Kebijakan terobosan pria kelahiran 29 Agustus 1961 itu terkait pendidikan diterima baik orangtua murid dan membuatnya menjadi politisi yang popular di Amsterdam.

Pada Oktober 2008 Aboutaleb ditunjuk sebagai Walikota Rotterdam, kota terbesar kedua di Belanda setelah Amsterdam. Bagi Aboutaleb Rotterdam adalah “really nice city, with a special population and a great history.” Sekedar catatan, hampir setengah populasi warga Rotterdam adalah ‘non-pribumi’. Sedangkan jumlah Muslim di Rotterdam sekitar 80 ribu jiwa (13 persen).

Aboutaleb dilahirkan dan dibesarkan di Beni Sedi, Maroko. Mantan reporter salah satu televisi publik Belanda itu adalah anak tokoh Muslim di Maroko. Selama di Maroko Aboutaleb belia merasakan betul bagaimana sulitnya menjalani hidup.

“Saya menghabiskan 15 tahun pertama kehidupan saya di Maroko dengan makan sekali dalam sehari dan berjalan tanpa sepatu,” ungkapnya dalam satu kesempatan wawancara dengan CNN saat diundang dalam forum konferensi melawan kebengisan ekstrimisme bersama 6 walikota lainnya dari Eropa dan AS di Washington pada Februari 2015.

Meski begitu, Aboutaleb tidak bisa menerima bila kemiskinan dijadikan alasan untuk melakukan aksi terorisme. Baginya, kemiskinan yang dialami seseorang harus mendorongnya pada pencarian pengetahuan dan pencapaian kelas sosial yang lebih baik.

Perjalanan politik Aboutaleb di Amsterdam dan Rotterdam bukan tanpa aral. Partai Leefbar Rotterdam dan Party for Freedom yang dikenal konservatif dan anti imigran kerap mengkritik Aboutaleb dan meragukan loyalitas Aboutaleb yang diketahui memiliki kewarganegaraan ganda, yaitu Belanda dan Maroko.

Geert Wilders, misalnya, secara terbuka menyatakan bahwa penunjukkan orang Maroko menjadi Walikota Rotterdam adalah hal konyol. Itu, menurutnya, sama seperti menunjuk orang Belanda menjadi Walikota Mekah.

“Ia harusnya menjadi walikota Rabat di Maroko. Dengan menunjukk dia sebagai walikota, Rotterdam akan menjadi Rabat di tepi sungai Maas. Dalam waktu dekat kita mungkin akan memiliki imam yang melayani layaknya uskup. Ini adalah kegilaan,” kata Geert ketus.

  1. Muhammad Abdullah Salique

Nama walikota Muslim lain adalah Muhammad Abdullah Salique atau juga dikenal dengan Mohammed Abdus Salique. Salique ditunjuk menjadi Walikota Tower Hamlets, London Raya, pada 2008-2009. Ia adalah Walikota Tower Hamlets kelima yang berdarah Bangladesh.

Salique dilahirkan di Sylhet, Bengal Timur (kini Bangladesh). Salique hijrah ke Tower Hamlets saat ia masih kanak-kanak. Salique muda adalah sosok yang berprestasi dan aktif sebagai pekerja sosial dan penggiat komunitas. Ia juga mengajar anak-anak muda di Tower Hamlets College.

Sebelum menjadi walikota, ayah lima anak itu pernah menjabat sebagai Dewan Kota Bethnal Green North pada Mei 2006. Sama seperti Sadiq Khan dan Jilani Chowdhury, pria kelahiran 1951 itu juga berasal dari Partai Buruh.

  1. Naheed Kurban Nenshi

Di Kanada tercatat ada nama walikota Muslim. Ia adalah Naheed Kurban Nenshi. Walikota ke-36 Caglary, Alberta, itu terpilih melalui pilkada pada 2010. Nenshi terpilih lagi untuk term keduanya dengan memperoleh dukungan suara sebesar 74 persen pada 2013.

Walikota Muslim pertama di Kanada itu dilahirkan di Toronto dan dibesarkan di Caglary. Orangtua Nenshi adalah imigran Tanzania, Afrika Timur, yang berdarah India. Pemilik akun Twitter @Nenshi nan aktif itu adalah seorang Muslim Syiah Ismailliyah.

Pada mulanya, ayah dua anak itu adalah seorang profesional. Ia bekerja sebagai konsultan di firma konsultan manajemen McKinsey and Company selama beberapa tahun. Belakangan dia membangun firma konsultan sendiri yang memberi konsultasi untuk organisasi non-profit, organisasi sektor publik, dan swasta. Firmanya juga memberikan konsultasi kepada PBB dalam soal bagaimana mendorong perusahaan-perusahaan kaya terlibat dalam Corporate social responsibility (CSR).

Keterlibatannya dalam isu-isu sosial dan isu-isu perkotaan mendorong Nenshi menapaki dunia politik. Pada 2004 Nenshi mencalonkan diri menjadi anggota Dewan Kota Caglary tapi ia gagal terpilih. Kegagalan itu tak membuatnya patah arang. Enam tahun kemudian ia kembali mencalonkan diri dalam kompetisi politik, tapi kali ini untuk merebut kursi Walikota Caglary. Ia berhadapan dengan dua kandidat lainnya.

Beberapa bulan menjelang hari pemilihan, Nenshi menjadi korban fitnah bernada SARA dan aksi vandalistik. Saat peringatan peristiwa pengeboman World Trade Center pada 11 September 2010, kantor sekretariat pemenangan Nenshi dirusak. Nenshi juga kerap menerima ancaman melalui surat elektronik. Akhirnya, kampanye yang dipersiapkan secara matang yang mengantar Nenshi keluar sebagai pemenang.

Visi Nenshi soal bagaimana satu kota merencanakan masa depannya menarik perhatian para pemikir perkotaan dari seluruh Amerika Utara. Sejak di term awal kepemimpinannya, peraih gelar master public policy dari John F Kennedy School of GovermentHarvard University, itu sudah menjadi walikota yang paling dikagumi di antara walikota di kota-kota besar lain di Kanada. Nenshi juga dijadikan panutan di Amerika Utara dan Eropa dalam soal manajemen yang desisif, terbuka, dan perencanaan masa depan.

Karena kualitas-kualitas itu, Nenshi diganjar World Mayor Prize pada 2014. Ia walikota satu-satunya dari Kanada yang mendapat penghargaan bergensi itu. Pada tahun itu juga, Walikota Surabaya Tri Rismaharini dinobatkan sebagai walikota terbaik ketiga oleh lembaga yang sama.

Selain penghargaan di atas, Nenshi juga menerima berbagai penghargaan bergengsi yang lain selama menjabat walikota. Pada 2011, misalnya, ia meraih  Young Leader Award dari World Economic Forum untuk gagasan inovatifnya tentang penataan kota. Ia juga memenangkan President’s Award dari Canadian Institute of Planners pada 2012 untuk implementasi gagasan tentang transparasi. Nenshi bahkan didaulat sebagai orang terpenting kedua di Kanada setelah Perdana Menteri Stephen Harper dari 50 daftar tokoh terpenting di Kanada versi Majalah Maclean’s pada 2013. 

Perdamaian

Rizieq Shihab: Rekonsiliasi atau REVOLUSI!

Diposkan pada
Rizieq Shihab: Rekonsiliasi atau REVOLUSI!

Rizieq Shihab tampaknya benar-benar tidak berani pulang ke Indonesia untuk mempertanggungjawabkan kasus-kasus hukumnya.

Dia kini menyuarakan ancaman pada pemerintah Indonesia. Ia meminta pemerintah Indonesia untuk melakukan ‘rekonsiliasi’ dengan ulama. Bila itu tidak dilakukan, maka pilihannya adalah REVOLUSI.

Ancaman itu disampaikan Rizieq melalui pembicaraan telepon yang diperdengarkan kepada peserta diskusi tentang tuduhan chat mesum Rizieq yang diselenggarakan di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta Pusat (16/6).

Rizieq menyatakan bahwa sebagai Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI), ia mengedepankan dialog dan rekonsiliasi. Namun, pendekatannya ini akan berubah seandainya pemerintah mengabaikan permintaan rekonsiliasi ini. “Jika aktivis Islam dan ulama terus dikriminalisasi, maka pilihannya adalah REVOLUSI,” ujarnya.

Ia juga menyatakan bahwa piihannya untuk bertahan di Saudi bukan merupakan bentuk pelarian dari tanggungjawab hukum, melainkan bentuk perlawaan terhadap kezaliman.

“Saya berada di tanah suci sebagai bentuk  perlawanan terhadap kebatilan, perlawanan terhadap diselewengkannya hukum oleh para penegak hukum,” kata Rizieq dalam sambungan teleponnya.

“Selaku pembina GNPF MUI, saya  tetap ingin mengedepankan dialog dan musyawarah dengan lebih mengutamakan rekonsiliasi. Akan tetapi kalau rekonsiliasi gagal, kalau rekonsiliasi tetap ditolak oleh pihak di seberang sana, sementara para ulama terus menerus dikriminalisasi, para aktivis terus menerus diberangus kebebasannya, diberangus hak asasi manusianya, dan rakyat jelata terus menerus dipersulit, dan Islam juga terus menerus dimarjinalkan, maka tidak ada kata lain yang harus kita lakukan kecuali lawan,” kata Rizieq.

“Jadi sekarang pilihannya ada di hadapan pemerintah: rekonsiliasi  atau revolusi,” kata Rizieq.

Ancaman Rizieq ini jelas menunjukkan niat Rizieq untuk menghindar dari kewajiban mempertanggungjawabkan perilakunya di Indonesia. Menurut catatan, ada sejumlah perkara hukum yang menunggu Rizieq di Indonesia: chat mesum  dengan Firza, penghinaan terhadap Bung Karno, penghinaan terhadap agama Kristen, penghinaan terhadap budaya Sunda, penghinaan terhadap profesi Hansip, penguasaan tanah secara tidak sah di mega Mendung, dan fitnah tentang gambar palu arit di dalam mata uang rupiah baru.

Dalam kasus chat mesum dengan Firza dan penghinaan Soekarno, status Rizieq sudah dinaikkan menjadi tersangka.

Nampaknya, Rizieq tidak cukup berani untuk menjalani proses hukum itu. Karena itulah dia berusaha membangun imej bahwa bahwa ketidakpulangannya ke Indonesia disebabkan oleh keinginannya untuk menghindari berlangsungnya konflik berdarah di Indonesia. Karena itulah dia membangun wacana adanya ‘kriminalisasi ulama’ yang sebenarnya tidak pernah ada.

Dia tentu berharap pemerintah akan bersedia menghapus kasusnya begitu saja. Dia berharap pemerintah akan takut dengan ancaman revolusi tersebut, dan memilih jalan ‘damai’.

Sejalan dengan itu, kalau pemerintah tidak bersedia memenuhi permintaannya, dia akan membual bahwa yang bersalah dalam ketidakpulangannya adalah pihak pemerintah yang ngotot tidak mau melakukan rekonsiliasi.

Rizieq Shihab tampaknya memang tidak punya niat baik. Tapi kita tinggal tunggu, berapa lama lagi dia masih bertahan dengan kebohongan-kebohongannya. []

Perdamaian

Dua Tokoh Perdamaian Nigeria akan Kunjungi Indonesia

Diposkan pada
Dua Tokoh Perdamaian Nigeria akan Kunjungi Indonesia

Ada kabar baik bagi pendamba, aktivis, dan peneliti perdamaian. Pastor James Wuye dan Imam Muhammad Ashafa direncanakan akan berkunjung ke Indonesia pada akhir Agustus mendatang.

Kabar itu disebarkan oleh meek (8/5).  Bagi pendamba perdamaian, kabar itu seperti oase di tengah menguatnya sentimen SARA pada Pilkada Jakarta 2017 yang menjalar ke hampir wilayah di Indonesia belakangan ini

Jacky Manuputty sehari-hari berkhidmat sebagai pendeta Geraja Protestan Maluku. Yang tidak kalah penting dari itu, Jacky dikenal sebagai inisiator perdamaian bersama tokoh Muslim Abidin Wakano kala Maluku dihantam konflik berdarah berbasis agama pada 1999-2000. Belakang nama Jacky selalu dikaitkan dengan ‘provokator perdamaian’.

Dalam postingannya itu Jacky menceritakan tentang rencana kunjungan Pastor James dan Imam Ashafa ke Indonesia. Menurut penerima Ma’arif Award 2005 untuk kategori pekerja perdamaian itu rencana bermula kala ia tengah berkunjung ke New York.

Pada satu kesempatan di New York City tahun lalu, Jacky bertemu Pastor James dan Imam Asyafa. Pada kesempatan itu juga Jacky mengundang keduanya untuk berkunjung ke Indonesia.

Menurut Jacky, ia bertemu Pastor James dan Imam Asyafa dalam pertemuan dua tahunan para aktivis perdamaian dari berbagai negara yang mendapat anugerah Peacemaker in Action dari Tanenbaum Center for Interreligious Understanding. Ketiganya adalah penerima anugerah tersebut. Pastor James dan Imam Asyafa mendapat anugerah itu pada 2000, sementara Jacky pada 2012.

“James dan Ashafa terlihat sangat gembira ketika beta mengundang mereka untuk mengunjungi Indonesia,” tulis Direktur Lembaga Antar Iman Maluku (LAIM) dalam postingannya itu.

Bagi pembaca yang tidak mengikuti mengikuti perjalanan Pastor James dan Imam Asyafa, keduanya adalah tokoh perdamaian dan sahabat karib beda agama dari Nigeria. James adalah seorang pastor di gereja Pantekosta, sedangkan Ashafa adalah seorang imam di komunitas Muslim Suni, khususnya para pengikut Tarikat Tijaniyah.

Yang menarik, sebelum Pastor James dan Imam Ashafa bersahabat, mereka saling bermusuhan satu dengan yang lain. Itu terjadi pada awal dekade 1990-an. Kala itu ekonomi di Nigeria ambruk dan berdampak pada relasi sosial di antara kelompok warga. Buntutnya, konflik berdarah antara Muslim dan Kristen, dua kelompok agama yang dominan, tak terhindarkan.

Dalam konflik berdarah itu, James dan Ashafa adalah tokoh penting dari dua kelompok sosial yang saling berhadap-hadapan itu. James adalah seorang aktivis Kristen ternama dan pernah menjabat sebagai sekjen the Youth Christian Association of Nigeria (YCAN), organisasi gabung seluruh kelompok Kristen di Nigeria. Sementara Ashafa –anak sulung seorang imam dan dibesarkan dalam keluarga dengan tradisi tasawuf yang moderat, tapi terpengaruh kelompok islamis– ingin melakukan islamisasi di utara Nigeria dan mengusir kaum Kristen dari wilayah itu.

Dalam konflik berdarah berbasis agama itu tidak terhitung lagi kehilangan yang dirasakan masing-masing pihak, termasuk James dan Ashafa. Orang terdekat keduanya ikut menjadi korban pembunuhan. Bahkan salah satu lengan James putus akibat konflik itu.

“Dampak konflik merubah persepsi mereka mengenai kemanusiaan dan mendorong mereka untuk saling mengulurkan tangan, memaafkan, kemudian bekerja sepenuhnya untuk mengkampanyekan perdamaian di Nigeria dan di seluruh dunia,” tulis peraih gelar master untuk program Pluralism & Interreligoius Dialogue pada Hartford Seminary, Hartfor, CT-USA, pada 2010 itu.

Sejak 1995, James dan Ashafa bekerja sama untuk membangun perdamaian lintas agama. Keduanya bahkan membentuk the Interfaith Mediation Center of the Muslim-Christian Dialogue di negara bagian Kaduna, utara Nigeria.

Untuk mengapresiasi sekaligus memperkenalkan kepada khalayak luas tentang kerja-kerja perdamaian yang dilakukan James dan Ashafa, sebuah lembaga membuat film dokumenter berjudul The Imam and the Pastor (2006). Film ini ditonton dan didiskusikan secara luas oleh gerakan-gerakan perdamaian lintas agama di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

The Imam and the Pastor bisa disaksikan di YouTube. Versi Terjemahan Bahasa Indonesia pun sudah ada.

Karena film itu, James dan Ashafa diundang ke berbagai belahan dunia untuk menginspirasi kerja-kerja perdamaian lintas agama. Tahu bahwa James dan Ashafa belum pernah berkunjung ke Indonesia, Jacky mengundang dua tokoh perdamaian itu.

Upaya Jacky itu seperti dimudahkan. Pengajuan Jacky kepada Tanenbaum Center for Interreligious Understanding untuk mengundang James dan Ashafa disetujui. Itu artinya kunjungan James dan Asyafa ke Indonesia pada akhir Agustus mendatang sudah terfasilitasi.

Menurut Jacky, kunjungan James dan Ashafa adalah bagian dari ketentuan Tanenbaum Center. Ketentuan itu menyebut bahwa setiap peacemaker yang mendapat Tanenbaum Award diharapkan bersedia mengisi program-program perdamaian yang dilakukan peacemaker dari negara lain.

Tujuannya untuk memperkuat jaringan kerjasama dan membagi pengalaman-pengalaman pengelolaan perdamaian masing-masing negara.  Sekaligus belajar pengelolaan perdamaian, seperti pendekatan dan strategi yang digunakan oleh pemimpin lokal.

Jacky semula merencanakan James dan Ashafa akan berada di Indonesia selama 2 pekan hari di 3 kota yang berbeda. Dimulai di Jakarta, lalu Yogyakarta, dan berakhir di Ambon. Namun pengurus Tanenbaum Center hanya mengabulkan kunjungan James dan Ashafa selama 10 hari. Itu pun tidak seluruhnya di Indonesia, tapi juga ke Filipina berhubung ada peacemaker di Mindanao.

“Dari 10 hari itu akhirnya dibagi dua. Lima hari di Indonesia dan lima hari di Filipina,” kata Jacky saat dihubungi Madina Online melalui sambungan telepon pada Rabu (10/5).

Lima hari itu akan dimanfaatkan Jacky secara maksimal. Jacky menyatakan kunjungan James dan Ashafa difokuskan di Yogyakarta, selain di Jakarta. Kegiatan workshop yang mengundang para pekerja-pekerja perdamaian dan dialog dari berbagai wilayah di Indonesia akan lebih lama diselenggarakan di Yogyakarta.

“Rencananya akan ada workshop selama 3-4 hari di Yogya. Dalam workshop itu ada sekitar 25 para pekerja perdamaian yang diundang untuk berbagi pengalaman mereka mengelola perdamaian di wilayah masing-masing, selain pengalaman James dan Ashafa sendiri,” ungkap Jacky. [