Berita

Kaum Intoleran Sebar Kabar Bohong tentang Kondisi Ade Armando pasca Mubahalah

Diposkan pada
Kaum Intoleran Sebar Kabar Bohong tentang Kondisi Ade Armando pasca Mubahalah

Kaum intoleran kembali berulah. Kemarin mereka menyebarkan kabar yang bunyinya bahwa asma Ade Armando mendadak kambuh dan akut. Karuan, menurut kabar itu, Ade dibawa ke rumah sakit dan dirawat intensif.

Saya ingin katakan bahwa kabar itu bohong besar. Itu bisa saya pastikan setelah bertanya langsung ke bang Ade, begitu saya menyapanya. Adapun kondisi Ade sekarang baik-baik saja dan sedang sedikit sibuk karena memeriksa hasil ujian para mahasiswanya.

Mengapa kaum intoleran menyebarkan kabar bohong terkait Ade Armando itu? Itu tentu berhubung dengan mubahalah (sumpah) yang dilayangkan Ade.

Jadi, beberapa hari yang lalu Ade via akun Facebook-nya menyatakan bahwa dia bersedia diazab jika kasus chat mesum yang melibatkan Rizieq Shihab dan Firza Husein itu bohong. Sebaliknya, jika chat mesum itu benar, maka Rizieq yang akan diazab Allah.

Mubahalah online itu dilayangkan Ade karena Rizieq dan pendukungnya mengajak bermubahalah pihak-pihak yang berseberangan dengan mereka terkait kasus ini. Bahkan mereka menantang Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk bermubahalah.

Tantangan itu memang tidak dilayani kapolri. Sebagai gantinya, Ade yang maju untuk melayani mubahalah Rizieq dan pendukungnya itu.

Setelah mubahalah online dilayangkan bang Ade, banyak pendukung Rizieq yang masuk ke page-nya Ade lalu mereka mengamini mubahalah itu.

Mereka yakin bahwa yang salah pastilah Ade Armando dan yang benar Rizieq Shihab. Karena itu, tujuan mereka mengamini mubahalah online itu agar Allah segera menimpakan azab-Nya kepada Ade.

Jahatnya, mereka menyebarkan berita bohong di atas dan mereka berharap itu viral di sosial media. Dengan begitu mereka ingin menunjukkan bahwa Ade Armando salah dan Rizieq Shihab yang benar.

Masalahnya, skenario mereka itu berantakan. Buktinya Ade baik-baik saja dan sehat-sehat saja.

Bahkan Ade berkata, “Saya percaya Allah selalu melindungi orang yang berada di jalan yang benar”.

Saya tidak tahu bagaimana kondisi Rizieq Shihab sekarang yang sedang menginap di salah satu hotel mewah di Mekkah. Saya pribadi berharap Rizieq baik-baik saja agar dia bisa pulang dan menyelesaikan sejumlah perkara hukum yang melilitnya.

Apa Ade Armando akan menyebarkan berita bohong serupa di atas dengan objek Rizieq Shihab?

Tenang. Sejauh pengalaman saya, Ade bukanlah tipikal pendendam. Dia malah cenderung mudah memaafkan kesalahan orang. Karena itu saya jamin Ade tidak akan melakukan tindakan berdosa itu hanya untuk melampiaskan kebencian dan dendamnya.

Mengapa Ade tidak mau mengotori tangannya dengan perbuatan yang hina di mata agama dan moral itu? Jawabannya simpel: karena dia adalah Muslim yang baik. Karena dia percaya Islam yang diyakininya itu mengajarkan nilai-nilai kemuliaan hidup

Berita

Keterbelakangan Ketua Pemuda Muhammadiyah dan Video Toleransi

Diposkan pada
Keterbelakangan Ketua Pemuda Muhammadiyah dan Video Toleransi

Organisasi Islam Muhammadiyah tampaknya harus berani introspeksi diri.

Muhammadiyah dulu dikenal sebagai organisasi Islam yang mendorong keterbukaan berpikir, modernitas dan penghargaan atas keberagaman, sebagaimana diwujudkan dalam sosok pendirinya, KH Ahmad Dahlan.

Tapi lihatlah sekarang Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak. Dengan segenap hormat, harus saya katakan, Dahnil nampak sebagai pemuda yang akan membawa Muhammadiyah menuju abad kegelapan.

Contoh terbaru adalah protes Dahnil tentang film Kau adalah Aku yang Lain (KAAL).

Dalam film itu ada adegan paranormal dukun pelet https://www.youtube.com/watch?v=rn4t3P_Gcjo di mana seorang pria tua – disebut ‘mbah’ – ngotot tidak mau membuka jalan yang ditutup karena pengajian untuk memberi jalan bagi ambulans yang membawa seorang pasien beragama Kristen yang sakit keras. Pria antagonis ini berkeras tidak memberi jalan karena akan mengganggu pengajian dan karena pria yang dibawa ambulans itu beragama Kristen.

Karena adegan itulah, Dahnil menuduh KAAL sebagai bagian dari upaya pihak kepolisian memberi  stigmatisasi massif kepada umat Islam.

Menurutnya, film itu menggambarkan umat Islam itu sangat intoleran dan bodoh, karena menghalangi ambulans yang lewat. “Itu jelas upaya stigmatisasi massif terhadap Islam yang dilegalkan oleh pihak kepolisian,” kata Dahnil dalam sebuah video yang diunggah akun resmi PP Pemuda Muhammadiyah. (28/6/2017).

Dahnil bahkan mengatakan: “Masalah utama kita adalah miskinnya kualitas literasi toleransi kepolisian”.

Dahnil menuduh pihak kepolisian menyebarkan kebencian melalui video itu.

Ia meminta Kapolri memberi sanksi pada panitia lomba video tersebut.

Kecaman Dahnil terkesan sangat terbelakang.

Kalau Anda menyaksikan video pedek itu, sangat jelas digambarkan bahwa si pria tua itu adalah tokoh antagonis yang memang sengaja ditampilkan sebagai sosok menyebalkan. Tapi dia sendirian. Ada tiga sosok lain yang menampilkan citra muslim yang positif.

Ada seorang polisi yang mengingatkan si mbah bahwa Allah memang dengan sengaja menciptakan manusia berbeda-beda dan nyawa manusia lebih penting daripada pengajian. Ada seorang santri muda yang memperingatkan bahwa sikap si mbah justru akan merusak citra Islam. Dan, yang terpenting, ada sosok kyai yang menyatakan bahwa Allah menciptakan umat manusia  dalam satu keluarga yang merajut cinta dalam persaudaraan.

Jadi, betapa tidak masuk di akalnya kecaman Dahnil.

Begitu juga argumen  Dahnil bahwa tidak mungkin ada muslim yang menghalangi jalan ambulans, tidak sepenuhnya bisa diterima. Masalahnya umat Islam di Indonesia memang kadang bisa melakukan hal yang tidak manusiawi dan tidak masuk di akal. Sebagai contoh dalam Pilkada DKI, sebagian muslim memang menolak untuk mengurus jenazah  muslim yang mendukung Ahok. Kalau terhadap sesama muslim saja mereka bisa bertindak serendah itu, apalagi pada warga non-muslim.

Lagipula, sosok mbah itu sendiri memang tidak diniatkan sebagai tokoh yang mewakili umat Islam. Dia layak disejajarkan dengan tokoh Haji Muhidin dalam serial televisi “Tukang Bubur Naik Haji”. Tokoh-tokoh antagonis semacam ini memang lazim ditampilkan dalam sebuah karya fiksi  untuk membuka jalan bagi masuknya ajaran moral yang berseberangan dengan karakter tokoh antagonis itu..

Jadi agak mengherankan bahwa Dahnil yang seharusnya berpikiran terbuka tidak bisa menangkap gagasan inti video ini. Apalagi sampai menuduh bahwa pihak kepolisian dengan sengaja melakukan stigmatisasi massif terhadap umat Islam.

Tentu harus dicatat, yang memprotes video itu bukan hanya Dahnil. Yang juga mengecam video ini adalah Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain yang menganggap film ini mendiskreditkan umat Islam.

Tapi, Zulkarnain selama ini memang dikenal sebagai orangtua yang pandangannya picik dan sempit (dia misalnya pernah menyatakan bahwa Jawa bisa dijajah ratusan tahun karena “banyak manusia model jongos”). Dengan kata lain, dia tidak bisa dijadikan standard.

Masalahnya, kalau seorang Ketua PP Pemuda Muhammdiyah juga berpikiran sempit semacam ini, kita layak khawatir dengan masa depan organisasi ini, sekaligus masa depan umat Islam Indonesia.

(Ade Armando)

Berita

Doa yang Sarat Kebencian tidak Dicontohkan Nabi Muhammad

Diposkan pada
Doa yang Sarat Kebencian tidak Dicontohkan Nabi Muhammad

Beberapa hari yang lalu ada cuplikan video di Youtube yang beredar cukup luas di sosial media. Dalam video itu tampak seseorang yang menampilkan dirinya sebagai pemuka Islam dengan mengenakan sorban putih pada kepalanya tengah berceramah di tengah jamaah.

Yang membuat miris adalah sosok yang belum diketahui identitasnya itu dalam ceramahnya mendoakan hal buruk terjadi pada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Dia mendoakan agar Ahok terserang stroke dan mobilnya meledak.

“Ya Allah, semoga Ahok kena stroke. Ya Allah, semoga Ahok meledak dalam mobilnya. Tapi jangan mati, ya Allah. Karena kalau langsung mati nanti keenakan. Biarkan Ahok disiksa dulu,” panjat sosok yang disebut-sebut dekat dengan Front Pembela Islam (FPI) itu lantas disambut teriakan amin dari jamaah.

Dia juga menghasut apa yang dia sebut sebagai jawara untuk mendatangi rumah Ahok lalu membunuh Ahok. “Ahok keluar, tebas! Nggak ada urusan”.

Doa yang berisi keburukan juga pernah dipanjatkan Arifin Ilham pada Agustus 2015 pada acara Parade Tauhid. Di akhir acara, Arifin diminta untuk memimpin doa bersama.

Dalam doanya itu, Arifin tidak memohon kedamaian, keselamatan, rahmat bagi semua pihak. Tapi Arifin justru memohon agar mereka yang dia persepsi sebagai musuh Islam dihancurkan dan dibinasakan.

Menyimak dua doa yang sarat dengan kebencian di atas, saya teringat pernyataan Ma’ruf Amin ketika menanggapi doa yang dipanjatkan anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra Muhammad Syafi’i saat sidang paripurna tahunan dan Rancangan Undang-Undang RAPBN Tahun Anggaran 2017 medio Agustus lalu.

Ketua Umum MUI dan Rais Aam PBNU itu menilai doa tidak boleh berisi kritikan atau sindiran. Sebab esensi doa adalah memanjatkan keinginan dan harapan yang berisi hal-hal baik.

“Kalau kita memohon kepada Allah itu harus yang baik-baik saja. Semoga bangsa kita menjadi lebih baik lagi itu boleh saja, tapi jangan menjelekkan pihak tertentu dengan sindir kanan, sindir kiri,” jelas Ma’ruf kepada merdeka.com.

Sebagai orang yang dianggap memiliki pengetahuan Islam di atas rata-rata, mestinya penceramah yang disebut-sebut dekat dengan FPI itu dan Arifin Ilham tahu mengenai adab berdoa. Jika doa isinya menjelek-jelekkan saja tidak diperbolehkan, apalagi doa yang sarat dengan kebencian dan kutukan.

Jika ada waktu, bukalah kitab sirah nabawiyah (perjalanan hidup Nabi Muhammad) yang ditulis oleh berbagai ulama. Di sana akan ditemukan banyak contoh baik yang diperlihatkan Nabi Muhammad yang layak diteladani dalam urusan memperlakukan kelompok yang tidak mengikuti ajarannya.

Teladan dalam soal ini pernah diperlihatkan Nabi Muhammad, misalnya, kepada seorang sahabat bernama Thufayl. Saya yakin penceramah itu dan Arifin Ilham pasti tahu hikayat Thufayl. Tapi izinkan saya ingin menuturkannya di sini.

Alkisah, pada suatu waktu Thufayl mendatangi Nabi Muhammad di Mekkah. Ia dalam keadaan sangat marah dan kecewa. Dia lalu meminta Nabi Muhammad untuk melaknat kaumnya karena menolak ajakannya untuk memeluk Islam.

Thufayl berasal dari Bani Daws. Thufayl adalah seorang penyair dan sosok yang dihormati di kaumnya itu. Dalam struktur masyarakat Arab saat itu, seorang penyair punya kedudukan yang tinggi di tengah masyarakat.

Thufayl punya kebiasan sering mendatangi Ka’bah untuk beribadah. Namun belakangan Thufayl kerap diperingatkan oleh para penguasa tiran Quraish untuk tidak berbicara dengan Muhammad. Menurut penguasa tiran Quraish itu Nabi Muhammad adalah seorang penyihir.

Penguasa tiran Quraish punya kepentingan dengan memberikan peringatan siapapun yang ingin mendatangi Ka’bah. Mereka tidak mau ajaran Muhammad meluas dan diikuti kaum yang lain.

Thufayl termakan propaganda itu. Dia khawatir dirinya terperdaya dengan sihir Muhammad. Karena itu, setiap dia memasuki masjid dia menyumbat telinganya dengan bahan katun. Itu dia lakukan, sebab Nabi Muhammad sering berada di sekitar Ka’bah untuk salat dan melantunkan ayat-ayat al-Quran yang baru sebagian beliau terima.

Di saat memasuki masjid, Thufayl mendapati Nabi Muhammad tengah melantunkan ayat-ayat al-Quran di antara pojok Yamani dan Hajar Aswad menghadap ke arah Yerusalem di sudut tenggara Ka’bah. Meski sudah disumbat, tapi lantunan ayat-ayat al-Quran itu menembus telingannya.

“Allah ingin aku mendengar sesuatu yang dibacakan oleh orang tersebut. Aku mendengar kata-kata yang begitu Indah,” kata Thufayl seperti ditulis Martin Lings dalam bukunya Muhammad yang sudah diterjemahkan Penerbit Serambi.

Mendengar ayat-ayat al-Quran yang dilantunkan Nabi Muhammad itu menggugah kesadaran Thufayl. “Aku orang yang cerdas, seorang penyair, dan dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Lantas, mengapa aku tidak mendengarkan perkataan orang ini? jika perkataannya itu baik, aku akan menerimanya. Jika tidak aku akan menolaknya.”

Singkat cerita, Thufayl mulai tertarik dengan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad. Nabi Muhammad lalu menjelaskan tentang Islam dan membacakan al-Quran. Setelah itu Thufayl menyatakan keislamannya.

Thufayl kembali ke kaumnya yang menetap di pinggir sebelah barat Mekkah. Thufayl kembali ke kaumnya dengan membawa kebenaran yang baru dia dapatkan dari Nabi Muhammad.

Thufayl ingin kebenaran yang dia dapatkan dari Nabi Muhammad mau didengar kaumnya dan setelah itu diikuti. Thufayl mengajak kaumnya satu per satu untuk mengikuti kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad.

Tapi sayang, usaha Thufayl seolah sia-sia. Kaumnya menolak kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad. Hanya istri dan ayahnya saja yang bersedia memeluk Islam. Konteks inilah yang membuat Thufayl marah dan meminta Nabi Muhammad agar berdoa untuk melaknat kaumnya.

Nabi Muhammad tidak memenuhi permintaan Thufayl itu. Nabi Muhammad justru mendoakan kaumnya Thufayl agar mendapat petunjuk.

Nabi Muhammad juga berpesan kepada Thufayl. “Kembalilah engkau kepada kaummu, ajaklah mereka masuk Islam, dan berlaku baiklah kepada mereka”.

Dari hikayat ini jelas terlihat bahwa Nabi Muhammad tidak membalas sikap penolakan atas ajaran yang dibawanya dengan kebencian dan perasaan dendam. Sebaliknya, Nabi Muhammad membalas sikap penolakan itu dengan mendoakan kebaikan untuk mereka. Yang dikedepankan Nabi Muhammad adalah cinta, bukan murka.

Pesan Nabi Muhammad kepada Thufayl juga perlu dicermati. Nabi Muhammad seperti ingin mengingatkan Thufayl bahwa selaku pendakwah dia tidak boleh berputus asa lalu gelap mata mendoakan keburukan bagi yang menolak dakwahnya. Nabi Muhammad juga ingin Thufayl tetap berdakwah seraya melakukan intropeksi apa yang salah dengan dakwahnya selama ini yang tidak diterima dengan baik.

Sayangnya, mutiara berharga yang diteladankan Nabi Muhammad di atas tampaknya tidak lagi menjadi pegangan bagi sebagian pemuka Islam di Indonesia saat ini, seperti dua orang yang saya singgung namanya di atas. Mereka lebih senang mengedepankan murka ketimbang cinta dalam berdakwah.

Konon, pesan Nabi Muhammad itu dilakukan Thufayl dengan sungguh-sungguh. Dampaknya, perlahan tapi pasti semakin banyak keluarga dari Bani Daws yang masuk Islam. []